Sampaikanlah, kawan.


Ujung kehidupan siapa yang tahu
Awal hidup pun tak pernah kau sadari
Gerak langkah hidup menuju ke masa senja
Dimana mentari mulai bungkam ...
Bercahaya namun tak menghangatkan.


Kecup manis, tawa riang, foya-foya
Menjadi khas dunia saat ini
Maaf ...
Bukan dunianya, namun penghuninya ...
Lupa, kalau esok ia belum tentu ada.

Kemanakah kau tarik masa depan
Dan kapankah kau ulur
Seribu benang kemenangan sesaat
Disaat seluruh menyayat hingga memekat
Kau lupa akan syarat-syarat syari'at

Ini puisi, Tuan
Ini catatanku, penonton setia dunia

Saya berkomentar dengan hati
yang tak nyaman
Heran namun sakit ...
hingga menelan ludah

Sampaikanlah kawan ...
Manisnya nanas tak nampak dari kulitnya
Lezatnya salak tak muncul dari legamnya kulit
Sehatnya penawar tak cukup terbayang dari rasanya...

Saat ini, cobalah menyentuh diri
Tuntunlah diri, pikirkan diri
Ada benarnya kamu berhenti
1000 menjadi 100
100 menadi 10
10 menjadi 1
dan berhenti ... sejenak saja

Bersemedi, memupuk diri
menyirami, dan menunggu panen diri
Jaga dengan emasnya  budi, intannya pekerti
Hingga saat kau mekar, mewangi ...
Bukan membabi.

CONVERSATION

0 komentar:

Post a Comment