Rentetan kisah berjajar, dan kini ku ambil episode baru
Pelan ku susuri, setapak ku coba memapah
Entah dari mana, angin itu pun memburu
Seakan aku sejenak tak bisa bernafas, ku lengah
Jantung ini tak mampu membendung, betapa besar sungguh cinta, betapa besar sungguh kasih
Namun mengapa di trotoar rongga itu, betapa besar dia menghinamu, betapa besar dia merusakmu
Aku manusia yang telah lahir, di akhir zaman ini
Yang saat ku kenal cermin itu, ku menangis
Goresan luka dalam cerminku tak mampu ku hapus
Semua membekas, semua disana
Dan aku, kini ku terjatuh
Nestapa dalam nestapa
Geram dalam jiwa
Tak mampu lagi tuk terdiam
Ucap kotor lidah sumpah serapah
Tak lekang terlantun dalam melodi sampah
Hingga jantungku, pecah
berdarah, tak tentu arah
Adilkah penyakit ini ada?
Mestikah ku berjuang dalam hina?
Sudikah dunia menatap kembali mata?
Mana jawaban diri yang tiada terucap?
Maka ku anggap aku mati
Diambil dari catatan facebook-ku: https://www.facebook.com/notes/syamsul-rizal/hujan-di-senja-kelam/10152650371492378

0 komentar:
Post a Comment