Telah ku coba, memipih garis-garis yang muncul ketika kau datang
Engkau membawa sebuah kejenakaan hidup
Melantunkan syair menggelitik namun serius
Membawakan gita yang cantik yang membuat ku kadang menjadi haus
Hingga pagi menjelang, saat suara itu hilang
Ku kehilangan lengan dan kaki
Tongkat kayu pun tak peduli
Sepi, tanpa ada separuh raga berdiri memapahku
Seperti orang buta, ku rasa
Hidup dalam kesepian nestafa yang abadi
Tanpa sedikit reka ulang waktu
Yang selalu didambakan umat berakal
Hingga air mata kehidupan mulai memancar
Memberikan sedikit ketenangan
Lepas dari dahaga
Bebas dari serpih-serpih kayu
Yang menghujam diri
Kini aku tersenyum dan tertawa bahkan
Melihat sesosok nada sepi yang mengilukan
Namun tak pernah kehilangan keelokan
Tersusun akan keanggunan
Hingga ku diam, cukup ku diam
Namun dalam sejuta kebisuan
Ada cita tuk mengarang
Bait-bait keesaan Tuhan yang kini ada didepan
Mataku, kau pujaan
-

0 komentar:
Post a Comment