Selamat bertemu kembali dalam ruang dan waktu yang tak terbatas, karena di dunia maya ini kita selalu dipertemukan dalam keadaan yang tak terduga. Tak seperti dunia nyata yang ketika kita bertemu, akan selalu ada masa yang mengakhiri pertemuan kita, kematian. Namun, bagi pembaca dimana pun kalian berada, tulisan demi tulisan yang ingin saya bagikan dengan kalian adalah hal yang akan abadi dimana pun dan kapan pun, hingga pada saatnya takkan ada lagi penulis dalam blog ini atau pun hingga akhir akan batas hidup alam semesta ini.
Baiklah, kawan-kawan. Tidak perlu terlalu serius dalam mendalami keseluruhan isi dari artikel ini karena saya hanya berbagi sebuah kisah yang tentu sebuah kisah bisa saja membuat kita tersenyum dengan manis, membenci dengan sudut pandang dalam diri kita masing-masing, atau hanya seperti angin-angin yang berembus, perlahan menyentuh, membuai dan berlalu. Sebelum kita lebih mendalami dengan apa yang akan saya tulis, mari saya ajak kawan-kawan untuk mendeskripsikan gambar diatas.
Apa yang muncul dalam benak kawan-kawan ketika membaca dan menghayati gambar tersebut?Apakah sebuah bentuk opini dari seseorang yang membenci akan sebuah kejadian atau sebuah perkara?Atau itu hanya sebuah karya desain yang dibuat sehingga bisa menarik siapa yang melihat?Atau bisa saja gambar di atas "sama sekali tidak bermakna apa buat kamu"?Atau kamu sendiri punya paparan lain? silahkan tuliskan di komentar di bawah catatan saya ini ...
Mengapa saya memaparkan beberapa pilihan dari deskripsi gambar di atas? Sebenarnya bukan bertujuan untuk membuat kawan-kawan memunculkan berbagai argumen lain dengan apa yang saya paparkan atau pun terlibat lebih jauh antara setuju dan tidak setuju dengan points yang muncul. Namun lihat kawan, satu orang saja bisa memaknai sebuah paparan atau deskripsi dengan berbagai sudut pandang yang berbeda, dengan kepekaan yang muncul oleh indra melihat, penciuman, perasa, pendengaran dan pengecapan. Gambar di atas hanya salah satu contoh dari bagaimana seseorang memiliki sudut pandang lebih dari satu terhadap sebuah konteks yang ada. Sekarang saya ajak kawan-kawan untuk membayangkan sebuah kondisi yang menurut saya setiap orang pasti pernah merasakan hal tersebut dan menikmati atau mungkin disisi lain masih memiliki anggapan dan ungkapan perasaan dengan menyebut "membenci" kondisi tersebut, yaitu "Sang Benci". Saya akan ajak kawan-kawan untuk melihat apakah para pembaca masih beranggapan bahwa "Sang Benci" itu hal yang tak baik. Let's see the result after you read all of this article.
Apa mungkin benci itu bisa dinikmati seperti yang saya katakan? Sangat pasti, karena saya pun pernah mengalami untuk menikmati rasa benci, serius! Sebuah benci itu bisa dinikmati oleh setiap orang dalam kondisi tertentu. Tidak percaya? mari saya ajak untuk menyelam pada sebuah kondisi yang sering terjadi di sekitar kita, seseorang yang sedang merasakan patah hati. Apa dia menjadi seorang pembenci karena dia mengakhiri hubungannya atau karena hubungannya diakhiri oleh pasangannya? Bukan kawan, dia tidak pernah menjadi seorang pembenci, justru dia sedang dalam proses menikmati kondisi benci yang muncul dari akibat yang ia lakukan. Dia sangat nyaman dengan kondisi tersebut sehingga membuat dirinya terlarut lebih jauh, lebih dalam, lebih menghayati bagaimana kondisi akan "Sang Benci" yang kini sedang menemaninya. Tak sedikit dengan penyikapan yang tak seharusnya, "Sang Benci" membuat orang tersebut harus melakukan tangisan, kekasaran, memunculkan amarah, dan kawan-kawan dari "Sang Benci" tersebut.
Jika saja ia membenci "Sang Benci", dia akan dengan mudah dan sigap melangkah, beranjak, berdiri, mengalun dan kemudian menghela nafas untuk segera berpindah dari kondisi yang ia benci. Namun bagi mereka yang perlahan menghayati kebersamaan dengan "Sang Benci", mereka takkan dengan mudah segera melangkah, namun dia akan bernegosiasi terlebih dahulu dengan "Sang Benci", dia akan berkomunikasi hingga pada akhirnya dia sendiri menemukan jawaban dari pertemuannya bersama "Sang Benci". See? Ada yang masih belum faham? Baiklah kawan-kawan, harap tenang dan senyum dulu dong, saya jelaskan dengan perlahan dan dengan analogi yang mudah di bawah ini.
Ketika seorang bayi hendak belajar untuk berjalan, dia tak pernah berhenti untuk terus mencoba berdiri dan melatih dirinya agar bisa berjalan. Apa dia membenci proses jatuh dari proses latihannya? Tidak. Dia semakin giat berlatih dan bersemangat hingga akhirnya ia bisa berdiri dan berjalan perlahan-lahan. Setelah itu, ia mulai melangkah dengan cepat, mencoba berlari meski dalam keadaan sempoyongan dan dalam prosesnya ia jatuh kembali. Apa lantas dia membenci jatuh? dia tak pernah membenci nya, dia hanya bertemu sejenak dengan keadaan dalam dirinya, "sang benci kecil". Namun lihat setelah dia bertemu dengan "sang benci kecil", apa dia merasakan dendam berkepanjangan dengan jatuhnya? Tidak. Hingga pada akhirnya karena justru dia bertemu hal yang "sang benci kecil" kini dia bisa berlari dan mengejar orang tuanya yang berada cukup jauh dari dirinya.
Dari analogi diatas, bisa disimpulkan bahwa benci, ya maksud saya "Sang Benci" yang saya sebutkan dari awal dengan penambahan tanda kutip pada frasa tersebut, adalah keadaan psikologi alami manusia yang muncul karena adanya interaksi eksternal yang menimpa seseorang sehingga seseorang itu memunculkan respon, umumnya, negatif dikarenakan seseorang itu memiliki penilaian bahwa faktor yang memengaruhinya (bukan mempengaruhi; cek KBBI) bernilai buruk di matanya. Namun, jika kita lihat dari kisah di atas, anak tersebut bukanlah tidak menyukai hal tersebut, hanya saja memang ada keadaan yang membuatnya harus melalui keadaan tersebut (hal ini tak terlepas juga dari takdir Sang Maha Mengatur) dan ia belajar bagaimana menyikapi keadaan setelah kejadian tersebut terjadi kepada dia dan dalam kisah tersebut tidak ada kondisi dari bayi saat belajar untuk membenci prosesnya. Sehingga, benci itu hanyalah bentuk respon yang diciptakan oleh diri seseorang yang sebenarnya output dari emosi tersebut tidak harus selalu dalam keadaan benci, percaya atau tidak? Coba kamu temui seseorang yang tinggal di perkampungan dan bagaimana respon mereka ketika ada seseorang yang tidak sengaja menabrak mereka? Tersenyum dan meminta maaf lebih dahulu, itulah yang dilakukan mereka meski pada dasarnya mereka yang menjadi korban namun mereka mengkondisikan diri agar yang mereka keluarkan itu hal positive (noted: baik).
Saya pun ingin berbagi pengalaman saya terkait dengan berkenalan dengan "Sang Benci" (jangan salah dalam membaca kata "benci" tertukar hurup e-nya denga huruf a). Seperti judul dari catatan saya ini, saya menyebut sebuah software yang biasa digunakan para penggiat design yang dipergunakan secara digital untuk photo editing, ya Adobe Photoshop. Ada apa dengan Adobe Photoshop? Ya...saya ditakdirkan untuk membenci AP (singkat: Adobe Photoshop) pada awalnya. Di sisi lain, saya merupakan orang yang bisa dikata setia, setia dengan salah satu software untuk mendesain juga, yaitu CorelDraw. Karena ada dua hal yang menurut saya pada awalnya bertentangan dan bersaing satu sama lain, saya memutuskan bahwa software terbaik diantara keduanya adalah CD (singkat: CorelDraw), khusus untuk saya sendiri. Mengapa saya lantas harus mengalami pertemuan dengan "Sang Benci" disaat berhadapan dengan AP? Diawali dengan kondisi yang mana 3 tahun silam saya pernah mencoba menggunakan AP. Apa yang terjadi? saya sama sekali tidak bisa menggunakan AP sedikit pun. Dengan berbagai fitur yang diberikan dan berbagai menu-menu yang muncul pada layar awal AP, dengan jujur saya merasa kelimpungan akan kondisi tersebut.
Hingga tahun pun berlalu, saya bertemulah dengan sebuah keyword dalam Google yang menurut saya ini hal menarik untuk dipelajari (saya senang mempelajari hal yang berhubungan dengan desain). Ada sebuah bentuk format file yang dari segi visual bagi saya memiliki keindahan, kecantikan, power, elegant, dan mengundang siapa yang melihatnya, dan kata kunci tersebut adalah "Mockup File". File berbentuk mockup merupakan sebuah hasil pengembangan design yang biasanya diperuntukkan untuk membuat sebuah object yang penampakannya seperti nyata. Seperti halnya logo yang menempel pada tembok tua dengan cat yang mengelupas, atau seperti sebuah perlengkapan kantor/branding identity (surat, amplop, kartu nama, logo perusahaan) yang tersusun rapi dalam satu tampilan.
Saya senang pada awalnya namun ketika saya mencoba mengunduh salah satu dari file Mockup itu (Berhubung GRATIS dan saya coba untuk saja untuk berlatih membuat), saya dibawa kembali kepada keadaan yang saya tidak suka, file ini hanya bisa di edit dengan menggunakan software AP !!! Betapa menyebalkan saya rasa karena hal yang saya baru sukai ini harus dilalui dengan apa yang sudah lama saya benci. Akhirnya dengan terpaksa saya mengunduh AP dan saya install di laptop yang sedang saya gunakan ini. Awal yang menghantui saya dengan ketidak mampuan menggunakan AP mulai melonggar ketika file Mockup itu saya buka, sedikit demi sedikit saya edit di lokasi yang disediakan untuk diubah. Alhasil, satu file Mockup hasil editing saya berhasil saya buat. Dan, hanya dengan waktu kurang lebih 30 menit saya berkenalan dengan "Sang Benci" kembali yang setelah itu saya pergi melangkah dan meninggalkan dia entah dimana.
Kondisi saya di atas ini pun sesuai dengan kutipan dari sang musisi legenda dari tanah kelahiran Ratu Elizabeth, John Lennon. Dia mengatkan:
- John Lennon
Jadi, hal yang bisa saya rangkum dari hasil pengkajian saya dalam catatan ini yakni:
- Output dari keadaan emosi karena sebuah faktor eksternal tidak selamanya harus dibentuk menjadi benci
- Proses benci pun bisa terjadi karena ketidaktahuan atau belum fahamnya kita akan suatu hal tersebut.
- Keadaan membenci akan satu hal adalah normal, namun ketika kita bisa melatih apa yang harus dikeluarkan, benci tidak akan menjadi pilihan terbaik.
- Belajarlah menjadi orang yang menjadi Tuan Bagi Dirinya Sendiri. Control your mind, than you can control your whole life.
Masukan akan selalu diterima oleh saya dikarenakan apa yang saya hasilkan disini pun dirasa masih memerlukan upgrade di kemudian hari. Tak ada sebuah ilmu atau pun teori yang abadi jika ilmu tersebut mampu terbantahkan ilmu terbaru yang lebih aplikatif dan relevan serta fleksibel dan dinamis.
Dan, saya pun mengajak bagi siapa pun pembaca yang saya hormati, #yuknyatet bukanlah sebuah slogan sajadan judul dari blog ini, tapi merupakan ajakan untuk kawan-kawan mencurahkan apa yang sebenarnya kawan-kawan miliki dalam pikiran kawan-kawan.
"Berbagi itu manis di hati, kawan"
- Syamsul Rizal (January, 12th 2016)


0 komentar:
Post a Comment