Ikhlas akan Jodoh (Looh ... !)



Sesiapa pun yang hendak mengarungi kisah selanjutnya dari sebuah hubungan (menikah), jujur saya sangat senang melihatnya, baik itu kawan dekat, sahabat, dan sekalipun orang yang tak saya kenal yang foto-fotonya berseliweran di facebook.

Terlebih ada senyum indah yang nampak pada mereka, rasa malu-malu yang ada diantara satu sama lain, dan emosi asmara yang membumbung tinggi karena halalnya hubungan mereka saat ini, semakin membuat saya menjadi orang yang amat bahagia. Serius.

Dan, ini bukanlah sebuah catatan yang tanpa tujuan, membicarakan ikhlas namun koq malah membahas jodoh? Nyambung koq nyambung ... ^^

Perkara ikhlas, lapang hati yang menjadi ciri bahwa kamu menyerahkan segalanya kepada Ilahi Yang Maha Pemberi Kebaikan. Penanaman nilai dalam diri manusia acap kali dianggap mudah untuk dilaksanakan dan mudah dalam berproses, padahal proses menuju tujuan kita yaitu ujung pencapaian diri dengan kemampuan yang diharapkan justru sangat sulit. Hingga kadang naluri manusia begitu saja mengatakan “cukup, sampai sini ajah dan saya menyerah, karena terlalu sakit untuk aku lanjutin (cieeeeh !)”. Sekarang kita menemukan point yang ternyata menjadi biang keladi akan sebuah keberhasilan kita dalam mencapai suatu ilmu (disini kita membahas ikhlas atau tabah hati dan menyerahkan segalanya kepada Ilahi), yaitu proses.

Mengenai proses, manusia tentu mengalami beberapa hal yang perlu melalui proses. Seperti halnya makan, minum, tidur, bangun, kerja, memasak, dan kegiatan lainnya. Ada proses disana. Namun sekarang kita mencoba memperhatikan kembali proses-proses lain yang kadang kita lupa untuk menyadari akan hal itu. Disini saya fokus dengan hal yang setiap hari kita selalu libatkan, yaitu “hati”. 

Anda pasti merasakan perbedaan disaat diputuskan pacar pertama kali dan ketika Anda putus untuk yang ke 50 kali, betul? 
Mana yang lebih sakit?
Yang pertama, kan?

Disisi lain, Anda juga pernah kan mencintai orang yang Anda sendiri tak mampu mengungkapkan padanya?
Bandingkan dulu dan sekarang, apa saat ini Anda akan merasakan bimbang seperti dulu saat Anda tak bisa mengatakan yang Anda rasakan?

Pasti Anda akan berkata dalam hati, “dulu sih sakit mendem yang aku rasa sendiri, tapi sekarang cukup menyukai dan tanpa harus diucapkan udah biasa, belum tentu jodoh sama dia”.
Nah, proses. Setiap manusia, sadar dan tidak sadar akan melaluinya. Begitu juga dengan hati yang terlibat setiap hari, dimana mungkin kita dahulu adalah orang yang sensitif sehingga ketika ada orang yang melihat kepada kita, tiba-tiba saja kita memunculkan emosi lain, baik itu marah, malu, canggung, dan ekspresi-ekspresi lain. Itu dulu, coba jawab oleh Anda sendiri “bagaimana diri Anda berbeda dari yang dulu?”.

Kembali ke pembahasan yang kita bincangkan di awal, ikhlas dan proses. Jujur saya juga merasakan spot-spot dimana pada spot itu saya merasakan “jatuh” akan sebuah keadaan. Sakit? pastinya jangan ditanya, namun untuk kegagalan di waktu yang pertama kali ya saya seharusnya mentolelir diri sendiri, itu pelajaran pertama. Selanjutnya melalui lagi proses jatuh dan jatuh yang lainnya, apa masih menjadi hal yang berhasil? Na’as, masih saja jatuh. Namun bandingkan kembali jatuh pertama dan ke lima belas kali, mana yang lebih sakit? Anda sendiri yang menjawab yaa ...

Kawan, kita memang terkadang kecewa
Kita masih disini saja ... dan orang lain begitu cepat berakselerasi dalam kehidupannya
Kita masih disini saja ... terpuruk dengan proses yang dirasa tak berujung
Kita masih saja ... terkungkung dalam benak hati untuk berkata kita tak bisa sama sekali


Tapi kawan, saya ingin membuka sedikit paradigma kita sebagai manusia. Kita hidup melalui proses perbaikan diri yang tanpa sadar itu terjadi, kita seharusnya bersyukur karena Tuhan memberikan “ilmu-ilmu” disaat kita memang sedang jatuh terpuruk dan dalam kondisi sakit sekalipun, bayak sekali ilmu. Cukup kita resapi saja, bahwa kita akan diberikan ilmu saat kita terjatuh. Pengulangan dan percobaan yang sudah kita coba tentu menghasilkan sesuatu, tentu. PENGALAMAN dan KETAHANAN. Alfa Edison, bukanlah penemu lampu, tapi dia adalah orang yang memperbanyak pengalaman untuk menciptakan lampu dengan berbagai metode yang ia tahu. Dan dari sanalah, proses yang berulang, ujian yang terus menerus kita hadapi, seakan tak terlalu membuat kita jatuh di kemudian hari karena saking besarnya ujian dan cobaan itu sehingga kita sudah siap di hari esok.
So, kawan-kawan, jika saja kawan-kawan memperhatikan secara jelas proses itu, dan Anda menyadari bahwa dalam setiap proses yang dilalui itu ada sebuah pelajaran dan nilai yang berharga (seperti sebuah latihan angkat beban, pertama melelahkan namun untuk yang selanjutnya tak seberat yang dikira) sehingga membuat kita tersadarkan bahwa kita ternyata lebih kuat dibanding kemarin, hal sepele dalam kehidupan kita saat ini takkan terlalu berpengaruh membuat kita menjadi “down” dan sedih. 

Mantan-mantanmu mungkin saja jodoh...
Namun jika saja ia bukan jodohmu, maka berbahagialah ...
Karena setelah bertemu denganmu, ia menemukan jodohnya ...

CONVERSATION

0 komentar:

Post a Comment