Good bye ... friends


Selamat siang, kawan...ya siang. Sudah cukup terpisah dengan terakhir kali aku menulis catatan-catatan remah roti yang hanya dikerubungi semut. Sekarang aku coba kembali menulis tentang teman yang ingin aku tinggalkan, mungkin pada akhirnya harus ... harus aku tinggalkan.

Hari ini, aku mencatat tulisan baru. Namun entah tulisan dan pesan ini bermakna baik atau tidak untuk pembaca. Aku hanya ingin berbagi, tentang sebuah keputusan yang memang semestinya aku lakukan ... dengan berat hati keputusan ini aku buat, aku takkan memilih teman yang tak baik untukku. Jujur, aku pun merasa belum baik bahkan label baik masih tak layak untuk aku semat-kan dan aku tempel-kan di depan kening ini. "Aku baik? fiktif", mungkin itu yang aku katakan kepada diriku sendiri.

Namun, tentu ada sebab aku menentukan bahwa aku tak ingin berteman dengan beberapa teman lamaku. Ada sebuah misi dan hal yang ingin aku tanam didalam diriku sendiri. Apa itu? keputusan untuk memilah dan memilih mana teman yang akan baik untukku. Dari situ, mulailah aku membangun sebuah kriteria, kriteria teman-teman yang semestinya aku dekati, aku jadikan sahabat, dan aku jadikan seseorang yang bisa menjadi tuntunan dan panutan.

Mengapa menurutku perlu untuk memilih dan memilah teman? Pendapatku ingin mengikuti apa yang pernah disampaikan manusia sempurna di jaga alam raya ini, yang bahkan cintanya menembus hati setiap manusia dan karena ilmunya manusia mengenal apa itu cinta yang hakiki, Muhammad (semoga Allah memberikan sholawat dan keselamatan kepadanya). Beliau pernah menyampaikan dalam haditsnya:

“Permisalan teman duduk yang shalih dan buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, bisa jadi ia akan memberimu minyak wangi, atau kamu akan membeli darinya atau kamu akan mendapat bau harum darinya. Adapun tukang pandai besi, bisa jadi ia akan membuat pakaianmu terbakar, atau kamu akan mendapat bau yang tidak sedap darinya.” (HR. Bukhari No. 2101, Muslim No. 2628)

Tidak selamanya seseorang akan kita jadikan teman, karena pengaruh pertemanan akan sangat signifikan terhadap bagaimana kita berperilaku dalam keseharian kita. Bagiku juga! Ada kalanya kita terlalu lama dalam sebuah pertemanan ... yah kepalang sudah berteman. Namun, lihatlah! Bagaimana kondisi dan sikap kita saat ini, karena diri kita pasti akan terbawa arus pertemanan di sekeliling kita. Terkecuali jika kita yang mampu menjadi seorang yang berpengaruh dalam sebuah komunitas atau kelompok itu.

Jadi, pilihlah pergaulan yang tepat. Karena tidak semua yang menurut kita membahagiakan itu akan menjadi manfaat bagi kita, begitu juga tidak semua yang pada awalnya terlalu mengekang karena sebuah aturan yang tepat dan jelas itu akan selalu buruk bagi kita.


Sumber: 
https://muslimah.or.id/2755-lihatlah-siapa-temanmu.html


CONVERSATION

0 komentar:

Post a Comment