Aku berjalan memapah kaki ini mengikuti pinggiran-pinggiran trotoar sepi di kota itu. Lampu-lampu nampaknya tak begitu jelas menerangi setiap sudut-sudut gedung di pagi ini. Semua tampak sedikit samar, semua tampak begitu buram. Namun, aku tetapkan berjalan ... melangkah ... sembari menatap langit yang sedikit mendung dalam kegelapan dengan gerimis yang dengan lembut seakan mencuci debu-debu kekeringan di jalan ini.
Hanya sepi yang ku rasa, hanya sendiri yang ku coba reka pada diri ini. Karena disini aku hanya seorang traveler yang berpangku pada niat untuk sampai ke tujuan perjalanan pagi ini. Nafas kian sejuk ku rasa dalam setiap tarikan dan hembusan dari paru-paruku. Udara kian membelai dengan lembut yang sedikit membuat badan ini semakin ingin bermanjakan dengan selimut dan bantal yang empuk. Ah, tapi aku sudah tidak mengantuk dan malah ini yang lebih aku suka, menatap keindahan untukku sendiri dan tak semua orang dapat menikmati kesempatan sepertiku, bercengkrama bersama pagi.
Namun, ada sedikit hal yang membuatku tak mampu melupakan ingatan itu. Dimana saat ku menatap ke sisi kiri sebuah gang yang dalam tebakanku cukup untuk satu kendaraan roda empat kecil (namun saat itu hanya jalanan kosong saja tanpa ada kendaraan). Lampu disana sedikit redup, tatapan ini hanya mampu melihat sebuah siluet, namun cukup jelas menampakan gambaran-gambaran pada apa yang aku lihat. Meski kaki ini tetap berjalan, namun mata dan ingatan ini masih tetap menatap kesana. Apa yang kau rasa jika pemandangan pertamamu di pagi hari ini adalah sosok bidadari? Ya, bidadari yang juga berjalan di muka bumi seperti dirimu. Bernafas sepertimu, berjalan sepertimu, dan menatap sepertimu. Meski bisa ku tebak bahwa antara diriku dan dirinya terpisah jarak yang cukup jauh dari posisi dimana aku melihatnya. Samar, namun jelas. Yah, itu yang aku pikirkan.
Jujur, kejadian tak terkira ini amat tak disangka. Pasalnya saat ku menatap ke arahnya dalam keterbatasan pagi yang gelap, dia pun menatap diriku. Hati mana tak tersambut, jika mengalami kejadian seperti ini. Aku tertunduk, dia pun tertunduk. Meski ku tahu bahwa kejadian ini hanya terjadi dalam 1 per sekian detik, namun seakan mata ini menangkap potret yang abadi dalam pikiran ini. Diri ini seakan melukis dengan sendirinya momment saat itu.
Hati pun bertanya "Siapa dia?" namun ku terlanjur melangkah dan sebaiknya aku melangkah ke tujuanku. Hanya gambaran dariku, bahwa sosok bidadari ini sepertimu. Namun yang membuatku kagum adalah ... bidadari ini adalah bidadari yang mencintai Tuhannya, dia yang mendengar panggilan Tuhannya sehingga ia akan segera mendekati apa yang Tuhannya perintah, meski pun pagi ia dipanggil. Jarang akan ku temukan bidadari-bidadari seperti ini di perkotaan-perkotaan yang sebagian besar mungkin mereka 'malu' tuk mendengar panggilan Tuhannya seperti bidadari yang tak sengaja aku melihatnya saat itu. Apa kelak aku bisa bersanding dengan bidadari seperti dirinya? Apa mungkin?
Apa juga aku berlebihan dalam menilainya sebagai bidadari? Yah, makhluk suci yang hanya tinggal di syurga kelak dan akan disandingkan bagi yang 'pantas' saja? Tidak menurutku. Karena aku percaya, jika saja ia tetap menjaga dirinya, sucinya ia akan seperti bidadari syurga kelak. Dan, bisa saja dia yang ku tatap dengan ketidaksengajaan adalah salah satu dari bidadari yang ada disana nanti.
Ah, catatan ini hanya sebuah catatan yang ingin ku tulis saat ku ingat momment ini. Nampak jelas ternyata tak hanya mereka (wanita) yang menginginkan para pendamping yang terbangun kala shubuh dan tergerak untuk segera menyahut panggilan Tuhannya, namun begitu pun lelaki. Karena lelaki tahu, apa makna dari seorang ibu. Ibu untuk anak-anaknya nanti, ibu yang menjadi pendidik dari sejak kecil hingga anaknya dewasa, ibu yang juga akan menjadi teman terbaik bagi seorang ayah yang bersama-sama untuk meraih cinta Tuhannya dengan berpegang pada pedoman Tuhan dan utusan-Nya (Al-Qur'an dan Assunah). Maka bisa ku pastikan bahwa, jika memang aku ingin mendapatkan bidadari-bidadari ini, diri ini tak cukup untuk hanya hidup saja tanpa mengikuti manual yang telah diberikan.
"Wahai wanita, bidadari yang terjaga dalam kesucian islami, aku hanya berpesan. Takkan lagi berarti dirimu jika saja kau merubah diri dan berlepas dari apa yang seharusnya kau jaga. Dan, nampak kau akan menjadi baik jika setiap saat kau istiqomah bahkan bisa menjaga dirimu untuk semakin dekat dengan Allah subhanahu wa ta'ala. Karena kami, para lelaki, sama menanti seseorang pendamping yang sepertimu. Kami pun mencoba menjadi seorang yang taat dari apa yang Allah perintahkan"
- Bandung, 17 Januari 2017 (Geger Kalong, Bandung)

0 komentar:
Post a Comment